Exploring the mundane and the what if.

Toko Merah

Blog ini adalah bagian dari Indonesian TTRPG Blogwagon

The Orange fruit came first, and the color was named after it.

Kota tua Jakarta atau Batavia lama, adalah kawasan historik yang dimana kita bisa menjumpai banyak bangunan peninggalan dari era kolonialisme belanda. Di antara bangunan putih arsitektur kolonial eropa ini, ada 1 bangunan yang mencuat dan beda dari yang lainnya. Bangunan ini dipanggil dengan nama Toko Merah. Sebuah bangunan kuno yang mempunyai reputasi mistis dan anker. Banyak cerita supernatural juga lahir di tempat ini.

Sama seperti tetangga-tetangganya, Toko merah juga mempunyai gaya arsitektur kolonial eropa belanda, tetapi. toko merah ini terbuat dari batu bata yang membuat seluruh bangunan ini terlihat merah dari luar. Pas kan? bangunan merah, namanya ya toko merah.

Tapi, tau ga kalau sebenernya tokonya pas awal dibangun, bentuknya masih belom merah? penampakan awalnya itu masih berwarna putih. sama seperti gedung-gedung belanda lainnya.

Terus kenapa jadi toko Merah namanya?

Sebuah sejarah singkat sebelum menjadi Toko

Toko merah dulu dibangun pada 1730 sebagai kediaman untuk pejabat tinggi VOC, Gustaaf Willem Baron van Imhoff. yang akhirnya dia pun menjadi gubernur Jenderal Hindia Belanda.

Berada di Kali Besar, bangunan ini duduk di pusat perdagangan Batavia pada masanya. Tempat kapal, pedagang, pekerja, dan dimana banyak pertukaran uang keluar-masuk kota.

Kian waktu berjalan, bangunan ini banyak berganti fungsi dan pemilik berkali-kali. tapi titik pentingnya kenapa mulai disebut Toko Merah terjadi di 1851. saat bangunan ini dibeli oleh Oey Liauw Kong, seorang tokoh Tionghoa terkemuka di Batavia, dan dia menggunakannya sebagai rumah sekaligus toko.

Dari periode inilah nama Toko Merah mulai dikenal.

Tapi, nama merah itu sendiri bukan terjadi karena Oey Liauw Kong melakukan renovasi dan membuat fasadnya jadi merah. Nama Merah itu menempel karena sejarah kelam dari etnis tionghoa masa itu.

Tragedi yang melahirkan beberapa nama daerah Jakarta

Untuk para pembaca internasional dan kepada orang Indonesia yang tinggal di batu. Orang tionghoa tidak mendapat resepsi yang bagus di negara ini. Diskriminasi terhadap keturunan tionghoa sudah terjadi sejak jaman VOC, yang dimana ada 2 puncak kekerasan yang dilakukan kepada keturunan Tionghoa. Yang terburuk terjadi pada tahun 1998, dikenal sebagai kerusuhan Mei 1998. dan yang pertama kali terjadi, disebut sebagai Geger Pacinan / Tragedi Angke. Tragedi inilah yang menyebabkan nama toko merah ini melekat. beberapa paragraf selanjutnya adalah kutipan dari wikipedia.

Geger Pacinan adalah tragedi pembantaian masyarakat Tionghoa di Batavia pada Oktober 1740 yang bermula karena keresahan dari masyarakat Tionghoa. Keresahan ini dipicu oleh represi pemerintah dan berkurangnya pendapatan akibat jatuhnya harga gula yang terjadi sebelum pembantaian ini.

Untuk menanggapi keresahan tersebut, pada sebuah pertemuan Dewan Hindia, badan pemimpin VOC, Gubernur-Jenderal Adriaan Valckenier menyatakan bahwa kerusuhan apa pun dapat ditanggapi dengan kekerasan mematikan. Pernyataan tersebut diberlakukan pada tanggal 7 Oktober 1740 setelah ratusan orang keturunan Tionghoa, banyak di antaranya buruh di pabrik gula, membunuh 50 pasukan Belanda.

Dua hari kemudian, setelah ditakutkan desas-desus tentang kekejaman etnis Tionghoa, kelompok etnis lain di Batavia mulai membakar rumah orang Tionghoa di sepanjang Kali Besar. Sementara itu, pasukan Belanda menyerang rumah orang Tionghoa dengan meriam. Kekerasan ini dengan cepat menyebar di seluruh kota Batavia sehingga lebih banyak orang Tionghoa dibunuh. Meski Valckenier mengumumkan bahwa ada pengampunan untuk orang Tionghoa pada tanggal 11 Oktober, kelompok pasukan tetap terus memburu dan membunuh orang Tionghoa hingga tanggal 22 Oktober, saat Valckenier dengan tegas menyatakan bahwa pembunuhan harus dihentikan.

Asal usul nama

Diperkirakan lebih dari 10.000 orang keturunan Tionghoa dibantai. Pada tahun berikutnya, terjadi berbagai pembantaian di seluruh pulau Jawa. hal ini juga memicu perang selama dua tahun (disebut dengan perang Jawa). Pembantaian ini mungkin juga menjadi asal nama beberapa daerah di Jakarta. yaitu :

Toko Merah

Seperti yang dibahas di awal, nama dari Toko Merah itu sendiri baru menempel di benak masyarakat Semenjak berganti kepemilikan menjadi Oey Liauw Kong. Kenapa? karena 2 hal:

Kejadian anker dan mistis di Toko Merah

Toko Merah mendapatkan reputasi yang kurang sedap karena banyak kisah warga sekitar yang menceritakan pengalaman mistis mereka. Terutama, Nona berbaju putih, dan juga Teriakan orang yang menggema.

Banyak usaha oleh pemerintah untuk merubah citra dari Toko Merah agar bangunan ini lepas dari citranya yang seram di kepala masyarakat. Sekarang ini, bangunannya menjadi sebuah museum.

Namun, saya merasa bahwa kejadian mistis itu adalah pengingat akan masa lalu. Sebuah penanda akan kekejaman yang pernah terjadi. Jiwa dari bangsa tionghoa yang tidak tenang atas ketidakadilan bangsa ini. Ketidakadilan yang terus kian dioper dari masa ke masa ke kaum marjinal.

Dengan blog ini, saya ingin mencetak mereka dalam sejarah dengan membawa mereka ke ranah ttrpg. Dimana pemain bisa mendalami, mengalami, dan merasakan apa yang pernah dilalui mereka pada masa lalu.

Delapan merah. D8 Event Table

Di bawah ini adalah sebuah tabel d8 event encounter yang terinspirasi dari sejarah Toko Merah (atau tempat sejenisnya yang mirip untuk dipakai di session-mu). kalian juga bisa menggunakan event table ini untuk kebutuhan lainnya dan dapat digunakan secara fleksibel.

  1. Merah, menenggelamkan. Kakimu mulai terasa lembam, lalu basah. Suatu cairan merah sudah mengisi lantai tempat kamu berpijak. bau besi, dan busuk menusuk ujung dalam hidungmu. Sungai penuh darah sudah merembes ruangan kamu berada. Di antaranya, potongan tubuh mulai mengapung menuju permukaan darah, mencoba menggenggam-mu dan menenggelamkan dirimu atas dosa yang telah kau perbuat. ”Saat itu, sungai menjadi merah atas banyaknya darah yang mengalir. Hari demi hari, airnya semakin penuh dan saluran perdagangan kota menjadi saluran pembuangan mayat kita”

  2. Merah, terbakar. Semua pintu dan akses ruangan tempat kamu berada tertutup rapat. terhentak oleh sesuatu yang di luar nalar. kthunk sebuah palang kayu baru saja dipasang, mengahalangi siapapun yang berada di ruangan untuk keluar dengan mudah. Arang, asap, Api. Ruanganmu mulai dibakar oleh musuh yang tak terlihat. Menginginkan kamu dan temanmu untuk hangus atas kehinaan dirimu. ”Mereka menutup pintu keluar, menuang minyak, dan melihat kita hangus menjadi arang”

  3. Merah, Membekas Beberapa dari kalian mendapatkan cap merah yang membekas di salah satu bagian badan. Seperti tembok perumahan etnis tionghoa, kamu sudah di tandai untuk di hancurkan. Cap ini tidak mudah hilang, dan membuatmu menjadi target yang mencuat dibandingkan yang lain. ”Waspadalah, tembok rumahmu yang menjadi pertahananmu akan mengkhianatimu. Identitas, tradisi, dan kepercayaan kita. Akan muncul menandai kamu diantara yang lain”

  4. Merah, bangkai Tumpukkan mayat tersusun berantakan, menggunung. Laki-laki, perempuan, anak kecil, dan janin tak terhitung jumlahnya dalam bentuk yang tidak utuh. Identitasnya dalam ditemukan dan digenggam oleh mereka. ”Dan ditumpuklah saudara-saudara kami. menuju 1 gunung yang kelak dibakar bagaikan sampah”

  5. Merah, ditanggalkan Peralatan dan senjata yang kalian gunakan melesat, melayang menuju ruangan antah berantah. meninggalkan pertahanan kalian telanjang tanpa peralatan tempur. ”Mereka yang ditemukan dan tidak dibunuh, dikumpulkan dan ditanggalkan pakaiannya. Mencoba menurukan harga diri hanya karena eksistensi kita”

  6. Merah, terhimpit Ruangan tempat kalian berada mulai menyempit. Perlahan, tembok-tembok dan juga batas ruangan ini akan menggencet kalian hingga menjadi daging berbentuk kubus yang tidak bergerak.
    ”Pada kalanya, kita harus masuk di dalam peti dan sela-sela rumah untuk sembunyi dari mereka. seperti ikan, tulang kami remuk dan terhimpit dalam ruang terbatas”

  7. Merah, tertembak Gelap gulita menyelimuti pengelihatan kalian. tidak ada sepercik cahaya yang tembus menyusup ke tempat kalian berada. Dari kejauhan, terdengar hentakan kaki dari serdadu, lalu sunyi. Mereka bersiap untuk menembak mereka yang membuat suara. ”Lalu, kita harus bersembunyi di rumah dalam kegelapan. atau mereka akan mengisi tubuh kita dengan peluru”

  8. Merah, keberuntungan Kamu menemukan sesuatu yang krusial yang dapat membantumu dalam perjalanan ini. Sebuah benda mistis? Kekayaan? Kesehatan? keberuntungan berada di pihakmu pada saat ini. ”Mereka yang menggunakan merah akan dipenuhi keberuntungan, kebahagiaan dan energi yang hidup. Sebuah harapan baik dan dilindungi dari roh yang jahat”

Delapan event ini terinspirasi dari sejarah yang terjadi, dan kemungkinan tidak 100% akurat sesuai apa yang terjadi. tapi toko merah ini menjadi dualitas bagi Indonesia-Tionghoa yang masih menempel di sebagian etnis kita hingga sekarang. Sebuah toko yang membawa keberuntungan dan mengharumkan nama kita, dan toko yang menjadi saksi kelam sejarah.

Side note: Angka delapan di tionghoa juga mempunyai arti yang beruntung. Sayangnya, pada konteks ini, warna itu datang sebagai saksi kemalangan dalam sejarah)

Persekusi dan musuh horizontal

Semua penulisan di atas sebenernya terkesan brutal dan seperti dendam yang tidak terpenuhi. tapi sebenarnya yang ingin saya angkat adalah. Mereka yang berkuasa sering membuat "musuh" agar kita melakukan konflik horizontal. Pada zaman dulu, etnis tionghoa, zaman sekarang?. Coba diperhatikan, selalu saja ada narasi yang "mengancam negara" padahal sebenarnya itu adalah narasi yang dibuat. Jadi, semoga kita tidak mengulang sejarah dan melakukan persekusi dan aksi brutalitas yang berlebihan seperti kejadian sejarah Geger Pacinan ini. Tapi untuk sekarang, kalian bisa mencoba merasakan apa yang dulu terjadi lewat event table yang sudah dibuat.

Cheers and Merdeka Indonesia!